Minggu, 11 Oktober 2015

JANGAN GAMPANG MEREMEHKAN ORANG LAIN !!!



Kisah ini sangat terkenal dan saya senang untuk membuatnya semakin terkenal dengan menceritakan kembali lengkap dengan rasa kagum dan haru saya. Dulu, ada seorang mahasiswa Universitas Harvard yang terkenal itu meninggal dunia. Bapak Ibunya datang ke gedung Rektorat untuk bertemu dengan pimpinan tertinggi Universitas ini. Potongan badannya yang biasa saja dan pakaian yang dikenakannya yang juga biasa saja rupanya menjadi penghalang terwujudnya pertemuan itu, dengan berbagai alasan, walau alasan-pastinya adalah: “orang biasa tak layak bertemu orang luar biasa.”
Kuat sekali keinginan kedua orang tua ini, menunggu sampai 4 jam untuk akhirnya bisa ditemui. Beliau berdua menyatakan ingin membangun sesuatu di Harvard ini sebagai kenangan atas nama anaknya yang meninggal. Bapak pimpinan marah dan berkata tidak mungkin karena nanti akan banyak tugu di kampus ini. Beliau berdua berkata bahwa yang akan dibangunnya adalah bangunan kampus. Sang pimpinan sinis berkata bahwa bagaimana mungkin mereka yang miskin ini mampu membangun gedung sementara satu gedungnya seharga 7,5 juta USD.
Si istri melirik sang suami sambil berbisik: "Cuma segitu ya mas, ya sudah kalau tidak boleh, kita bangun sendiri di tempat lain." Pergilah mereka berdua ke Palo Alto California membangun universitas yang saat ini menjadi salah satu universitas favorit di Amerika. Universitas itu bernama Stanford University, dari nama beliau berdua Mr and Mrs. Leland Standford.
Jangan biasakan menilai orang dari pakaiannya, dari mobilnya dan dari rumahnya. "Tidak semua yang putih itu lemak, tidak semua yang hitam itu kurma." Biasakan kita menghormati semua orang karena mereka telah ditakdirkan bertemu kita atas idzin Allah. Kalau genteng kita bocor, pompa air kita rusak, mobil kita mogok, siapakah yang membantu kita? Orang kaya dan berpangkatkah? Ah tidak, ternyata orang yang biasa-biasa saja yang kadang sering kita remehkan. Selamat merenungkan.
Salam, AIM (Ahmad Imam Mawardi), Dosen Pascasarjana UINSA Surabaya (Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya)

ILMU DAN AKHLAK

Fakir harta itu bukan aib, yang aib itu adalah fakir akhlak. Miskin harta itu bukan cela, cela itu adalah miskin Iman. Tak berkedudukan itu bukan cacat, cacat itu adalah sombong di hadapan orang tak berkedudukan. Selamat pagi, buanglah aib dari diri kita.
Tak salah jika kita bercita-cita. Yang salah adalah ketika kita diam saja sambil berharap cita-cita datang sendiri. Tak keliru jika kita punya impian. Yang keliru adalah ketika kita terus bermimpi dan tak bangun-bangun untuk mewujudkannya. Tak mengapa jika kita terus merancang masa depan, yang mengapa adalah jika kita merancang terus tanpa mewujudkan.
Hidup itu cuma sebentar. Persembahkanlah yang terbaik. Namun sesebentarnya hidup, masih ada sesuatu yang akan tetap hidup walau jasad kita telah mati, yaitu: Akhlak dan Pemikiran. Berbahagialah mereka yang akhlaknya menjadi iklan dirinya, damailah mereka yang pemikirannya terus hidup menyinari dunia pasca kematian mereka.
Sekarang waktunya kita bertanya pada diri kita sendiri: “Apa yang telah kita perbuat dalam kehidupan kita selama ini? Adakah yang layak dikenang? Adakah yang pasti diingat? Adakah yang akan tetap menjadi penyambung umur kebaikan kita? ”. Tak perlu hal besar dan hebat, untuk kita lakukan, cukup lakukan yang terbaik pada apa yang diamanahkan Allah kepada kita. Semoga senantiasa dalam bimbingan Allah. Aamiinn...
Salam, AIM (Ahmad Imam Mawardi) Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya

Rabu, 30 September 2015

TUTUPLAH AURATMU!!!

Saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area publik.
Dengan pertanyaan seperti ini :
1. “Mbak-mbak, boleh tau apakah dengan rok mini / celana super pendek yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak ?”
2. “Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya ? atau malah risih kalau kami melihatnya ?”
3. “Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bisa sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati ?”
Apa ada yang bisa jawab pertanyaan tersebut, khususnya cewek yang sering pakai rok mini / celana super pendek di area publik ??
Hanya sebuah catatan :
Soal hak, semua memang punya hak masing-masing. Selama masih berada di tempatnya, hak menjadi sesuatu yang aman bagi dirinya maupun orang lain.
"Apapun yang diciptakan berharga di dunia ini entah itu tertutup rapat, sulit untuk dilihat, ditemukan atau didapatkan.”

Suatu contoh :
1. Dimana kamu dapat menemukan berlian ?
Jauh di dalam tanah, tertutup, dan dilindungi.
2. Dimana kamu dapat menemukan mutiara ?
Jauh di dalam samudra, tertutup, dan dilindungi oleh cangkang yang indah.
3. Dimanakah kamu dapat menemukan emas ?
Jauh di dalam tambang, ditutupi dengan berlapis-lapis bebatuan, dan untuk mendapatkannya kamu harus bekerja keras dan menggalinya.
Tubuhmu suci dan unik. Kamu jauh lebih berharga dari emas, berlian, dan mutiara, dan kamu juga harus ditutupi.
Jika kamu menjaga hartamu seperti emas, berlian, dan mutiara, ditutup dengan rapat, perusahaan tambang ternama dengan pekerjanya yang kompeten akan datang dan melakukan eksplorasi yang luas.
Pertama, mereka akan menghubungi pemerintahmu (keluarga), menandatangani kontrak profesional (pernikahan), dan memilikimu secara profesional (pernikahan yang legal).
Tapi jika kamu terus-menerus membiarkan hartamu yang berharga tidak tertutupi, kamu akan selalu menarik penambang ilegal untuk datang dan menambangmu secara ilegal.
Semua orang hanya akan mengambil instrumen mentah dan menggali dengan bebas.
Jadi, jagalah tubuhmu tertutup maka kamu akan mengundang datangnya penambang profesional untuk mengejarmu.
By: Al-Afkar

Rabu, 13 Mei 2015

MUKTAMAR KHILAFAH HTI, PENYIMPANGANNYA, DAN NKRI

AINUR ROFIQ AL-AMIN*

Sejak awal Mei 2013 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan roadshow sekaligus show of force dalam bentuk muktamar khilafah (MK) di beberapa kota di Indonesia. Puncak Muktamar khilafah diadakan di Gelora Bung Karno pada 2 Juni 2013.
 Muktamar ini berupaya menggiring orang muslim dengan satu destinasi final, mempercayai nalar khilafah HTI dan ikut memperjuangkan penegakannya, dan kalau bisa tentu Indonesia sebagai pusat khilafah. Sehingga hampir setiap hari, terutama lewat media internet maupun sms (short message service), para aktifisnya menawari orang-orang yang komitmen kepada syari’ah  untuk mengikuti acara tersebut.
Anehnya, terkadang cara yang digunakan untuk menggiring peserta ke arena muktamar tidak simpatik. Saya mendapat sms dari teman NU di Nganjuk, “Ranting Muslimat Rejoso termasuk pengurusnya, 4 bis, diajak pengajian ke Surabaya, bis gratis. Iuran 20 ribu makan 2 kali. Ternyata pengajian HTI.”
Belum lagi pasang spanduk yang mengatasnamakan Pagar Nusa atau yang lain. Atau juga  kabar angin yang sering dihembuskan, termasuk ke saya bahwa ulama atau kiai NU yang mempunyai ribuan jama’ah siap menghadiri acara MK. Tapi ketika saya tanya siapa dia, jawabnya enteng, itu rahasia.
Terkadang cara yang tidak elegan ini mampu menarik massa untuk terlibat dalam muktamar khilafah. Seperti sms yang saya terima dari seorang mahasiswa lugu di Jember , “Karena yang saya lihat kemarin itu (muktamar khilafah di Surabaya pen.) perjuangan HT bukan untuk kelompoknya. Bisa dilihat dari tema muktamarnya, “Muktamar Khilafah”. Berbeda dengan yang saya tahu selama ini, NU, muktamar NU; MD, muktamar MD. Tapi HTI kok beda?”
Atas itu semua, mari kita jernihkan tentang realitas historis khilafah. Tidak ketinggalan tentang posisi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).        

Antara Realitas Historis dan Idealitas
Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang pernah dijalankan umat Islam. Dalam kronika historis, khilafah telah mengalami proses yang sangat historis, dan tentu rentan kritik.
Namun perkembangan yang terjadi, khilafah menjadi icon, nomenklatur, bahkan sebuah ideologi. Khilafah menjadi suci, sakral, dan sangat ideologis yang tidak boleh ada saingan, bahkan menafikan dan underestimate terhadap sistem politik lain.
Andaikata para aktivis Hizbut Tahrir menyebut khilafah sebagai manusiawi yang bisa salah, statemen itu justeru untuk memperteguh eksistensi khilafah. Baginya, khilafah tidak akan pernah salah, yang salah adalah elit pemegangnya. Karena bagi Hizbut Tahrir, khilafah adalah paket dari Nabi.
Padahal penelitian saya dari kitab-kitab Hizbut Tahrir, sistem politik yang merupakan paket dari Nabi ini ternyata telah mengalami perubahan dan perbedaan antara karya pendiri Hizbut Tahrir dengan pemimpin yang sekarang ini. Justru yang disayangkan, tidak ada perubahan terhadap konsep yang menjadi titik lemah, seperti model pemimpin seumur hidup, tiada separation of power, khalifah sangat powerful karena memegang  legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
 Lain dari itu, realitas historis khilafah berbicara secara gamblang terhadap sisi negatifnya –di samping positifnya-, sebagaimana pada sistem-sistem politik yang lain. Kebaikan, kemajuan, perkembangan sains dan peradaban Islam pada masa kekhilafahan dan kerajaan, ataupun kesultanan Islam begitu melimpah dapat dibaca di dalam buku-buku sejarah Islam.
Biasanya nilai-nilai kebaikan inilah yang selalu diinternalisasikan Hizbut Tahrir kepada para pengikutnya. Akhirnya para pengikutnya menjadi rabun terhadap kelemahan yang pernah terjadi pada masa khilafah tersebut.
Sebagai penyeimbang, sisi negatif pada masa khilafah dapat dilihat dalam ketatanegaraan. Hampir seluruh era khilafah dan kerajaan muslim terjadi apa yang disebut dengan proses pergantian pemimpin lewat putra mahkota.  
Dalam soal hak asasi dan hukum perang pernah terjadi penyelewengan. Sebagaimana dicatat oleh Nadirsyah Hosen Pengajar di Fakultas Hukum University of Wollongong Australia, terjadi pemberontakan di kota Musil melawan pemimpin Khilafah Abbasiyah, as-Saffah. Panglima perang as-Saffah mengumumkan di kalangan rakyat bahwa siapa yang memasuki masjid Jami',  dijamin keamanannya. Ribuan orang berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian dihabisi  nyawanya. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu.
Sebagai tambahan, cukuplah penjelasan al-Maududi dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk  bahwa setelah masa 30 tahun setelah Nabi wafat, muncul kerajaan yang memaksa. Ciri dari kerajaan ini adalah pengangkatan putra mahkota, perubahan gaya hidup, keuangan negara menjadi milik raja, terpasungnya berpendapat, peradilan tidak bebas, hukum tidak menjadi panglima, dan munculnya kefanatikan.                

NKRI
Harus diakui dalam lintas sejarah umat Islam dan pemikiran politiknya, banyak sistem ketatanegaraan yang berkembang. Seperti khilafah, imamah, kerajaan, keamiran, kesultanan, wilayatul faqih (model Syi’ah), maupun NKRI.
Dengan demikian, khilafah bukan satu-satunya sistem politik yang diintrodusir ulama Islam. Bisa disebut  al-Farabi, Ibnu Abi Rabi, Al-Ghazali, Nashiruddin Al-Thusi, Ibnu Sina, Ibn Khaldun, hingga Ibn Taymiyyah hampir semuanya sepakat tentang realitas manusia sebagai social creature yang pasti akhirnya membutuhkan negara. Namun mereka tidak merekomendasikan khilafah sebagai satu-satunya sistem Islam. Bahkan dalam buku Suluk al-Malik fi Tadbir al-Mamalik  karya  Ibn Abi Rabi’ yang hidup pada masa  Abbasiyah, dijelaskan bahwa sistem ketataneggaraan terbaik adalah kerajaan.
Terlebih lagi dapat dipastikan bahwa khilafah sebagai kesatuan sistem sebagaimana yang digambarkan Hizbut Tahrir, pasti hanya satu-satunya milik Hizbut Tahrir. Model struktur khilafah Hizbut Tahrir tidak pernah digambarkan dan dijabarkan oleh ulama-ulama Sunni maupun Syi'ah sejak zaman dahulu.  
Untuk alasan di atas, NKRI juga harus diapresiasi kehadirannya. NKRI merupakan produk ulama Indonesia yang absah. Buktinya KH. Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan resolusi jihad. Demikian juga KH. Wahab Hasbullah dan KH. Wahid Hasyim yang turut berkiprah di dalam NKRI. Demikian pula tokoh Muhammadiyah seperti ki Bagus Hadikusumo juga menerima NKRI.
Maka NKRI kalau ditarik dalam konteks ushul fiqih, sudah merupakan ijma’ ulama Indonesia, tentu sungguh tidak elok bila mau diganti dengan khilafah. Energi kita nanti akan habis untuk hal tersebut. Kita tidak mau mengulang lagi sejarah piagam Jakarta hingga Dekrit Presiden tahun 1959, dan mereproduksi kembali DI/TII.
Akan sangat bijaksana bila umat Islam semua rakyat Indonesia dengan ragam pemikiran dan keyakinannya untuk mengisi NKRI dengan nilai-nilai yang mereka idealkan, bukan malah mendekonstruksi. Cara dekonstruksi selain tidak benar, juga political cost yang harus dikeluarkan sangat mahal, outputnya hanya friksi-friksi tajam yang kontra-produktif dan destruktif.

*Penulis Disertasi tentang Khilafah Hizbut Tahrir, Dosen Politik Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, pembina Pagar Nusa Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Kisah Kakek Sang Penyabar

Oleh: Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi, MA.*
Kakek tua ini luar biasa, sabar sekali menunggu pepayanya yang sudah mulai menguning tua. Setiap sore dijenguknya sambil bergumam dalam hati "tiga hari lagi matang dan siap makan." Setelah tiga hari penantian tiba, jum'at pagi hari dua pepaya paling besar hilang lenyap. Rupanya kamis malam yang dihiasi gerimis dimanfaatkan maling untuk mengambil pepaya itu.
Kakek tua itu menangis sesenggukan. Istrinya, sang nenek yang giginya tinggal dua itu, berkata: "Sabar kek, jangan ditangisi, nanti agak siang saya belikan pepaya yang lebih besar." Tangisan kakek semakin menjadi-jadi dan berkata:

KAPITALISME AUDISI PENCARIAN BAKAT



Abd. Basid*
Kalau kita mengikuti perkembangan audisi pencarian bakat (talent show), lebih-lebih dalam bidang musik, di Indonesia yang ditayangkan oleh beberapa pertelevisian belakangan ini, maka hampir setiap stasiun televisi mempunyai program audisi tersebut.
Bahkan di antara beberapa chanel televisi yang ada tidak hanya mempunyai satu program talent show. Yang lagi marak dan eksis belakangan ini, sebut saja misalnya seperti, X Faktor Indonesia di RCTI, Indonesian Idol di RCTI, Idola Cilik di RCTI, Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV, The Voice di Indosiar, dan lain sebagainya.
Jika merujuk pada tahun-tahun sebelumnya, program audisi di atas sebetulnya bukanlah hal yang baru di Indonesia ini. Dari masing-masing jenis audisi sudah memasuki beberapa generasi. Indonesian Idol sudah memasuki generasi ketujuh. Idola Cilik sudah generasi keempat. IMB sudah generasi ketiga. Baru X Fator Indonesia dan The Voice yang baru ada pada generasi pertama.
Merujuk pada audisi-audisi yang sudah berlalu, dari generasi ke generasi, penulis beropini bahwa program audisi tersebut tidaklah murni mencari bakat dan bibit unggul generasi muda masyarakat Indoenesia, karena setelah mereka juara, nasib para juaranya hilang seiring dengan berakhirnya audisi itu sendiri. Tidak ada “nasib” baik memihak pada sang juara pasca audisi. Dengan berakhirnya audisi, maka berakhir pula penyaluran bakat dan talenta sang juara.
Tidak ada pembibitan atau wadah lebih lanjut setelah mereka juara. Mereka tenggelam seiring dengan diadakannya talent show selanjutnya. Mungkin bisa kita lihat bagaimana Klanting, Putri Ayu, Hudson, finalis IMB 1 (2010) hingga kini hilang seakan ditelan masa tanpa kabar lagi. Regina, Kamasean, Dion, finalis Indonesian Idol 7 (2012) juga hilang dari permukaan. Juga Lintar, Rio, Alvin, finalis Idola Cilik 3 (2009-2010) bernasib sama, tak berkabar tanpa karya. Untuk juara-juara baru tahun ini kita tinggal lihat bagaimana nasib mereka ke depan.
Beberapa pembuktian di atas, kiranya cukup mewakili sebagai penguat bahwa keberadaan talent show di negeri ini lebih pada keuntungan sepihak dan tidak murni mencari bakat dan bibit unggul. Dengan demikian, maka tidaklah berlebihan jika penulis menilainya bahwa ada unsur kapitalisme dalam pelaksanaan talent show di Indonesi selama ini. Dengan kata lain talent show tidak ubahnya sebagai mesin pencari uang dari industri-industri yang ada.
Kapitalisme Global
Pada awalnya istilah kapitalisme merupakan sebuah sistem di mana modal (kapital) dimanfaatkan untuk mengusahakan kesejahteraan. Tapi di kemudian hari banyak fakta melencengnya. Modal yang sering kali hanya dimiliki segelintir orang digunakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Industri hiburan merupakan salah satu lahan subur kapitalisme ini. Di belahan dunia ini, termasuk Indonesia, kontes-kontes yang ada menjadi bagian jaring-jaring besar dan dibangun oleh kapitalisme global.
Pada kasus talent show di Indonesia, kalau kita mencoba menghitung berapa keuntungan penyelenggara show dalam setiap minggunya, mulai dari iklan, sms, dan program pendukung lainnya. Dari tiga jam pertunjukan, kita ambil rata-rata dari semua pertunjukan yang ada, misalnya 20 persen adalah jatah untuk iklan. Tarif iklan per 30 detik 15-20 juta. Dari sini dalam satu kali show, televisi akan memperoleh keuntungan 1 miliyar. Bisa dibayangkan berapa miliar jika lama audisi sampai 6 bulan (24 penayangan), 24 miliar. Semua itu belum termasuk sms pemirsa yang kirim untuk mendukung jagoannya.
Menurut data, setiap hari ada 60-80 ribu sms masuk dan ketika konser jumlah meningkat sampai 400-500 ribu. Bila di rata-rata, misalnya kita ambil 70 ribu sms. Dengan tarif dua ribu dua ratus rupiah per-sms, maka operator sms akan mendapatkan sekitar 12 milyar. Sedangkan dari sms saat show sekitar 8 milyar. Ini belum lagi termasuk hasil dari program pendukung, seperti program khusus yang menampilkan hari-hari finalis selama dikarantina. Demikianlah dunia hiburan di negeri ini dibuat sebagai mesin pencari uang yang mendunia atau bisa disebut juga sebagai kapitalisme global. Hitung-hitungan di atas dengan kalkulasi penulis dari hitungan perolehan minimal, belum lagi nantinya kalau ternyata perolehannya melebihi dari kalkulasi minimal di atas—dan itu sudah barang pasti, jika melihat sekarang ini sudah zaman informasi, di mana pemirsa begitu gampang meng-sms hanya untuk men-vote peserta kesayagannya.
Selain itu, ada beberapa indikasi lagi akan bentuk kapitalisme talent show ini, di antaranya, pertama tidak adanya transparansi sms. Perolehan vote sms dari pemirsa tidak ditampakkan dari masing-masing finalis. Presenter hanya menginfokan siapa yang tertinggi dan terendah. Berapa persen perolehan dari masing-masing finalis oleh panitia dirahasiakan.
Kedua, setelah juara mereka dibiarkan. Dalam artian para juara yang sudah berhasil mereka saring, setelah itu akan hilang dan tenggelam tanpa kabar. Masing-masing dari mereka kembali ke daerah masing-masing dan sibuk dengan rutinitas pribadinya masing-masing. Tak ada wadah tindak lanjut pasca audisi. Padahal andaikan para finalis diwadahi seperti halnya waktu mereka dikarantina, misalnya, maka sudah barang pasti mereka akan menjadi bibit unggul dan bersaing.
Ketiga, pemoloran waktu audisi. Dalam artian, dalam setiap minggunya kadangkala tidak ada elemenasi peserta, tapi vote sms tetap berlangsung. Elemenasi sebagai penentuan peserta yang gugur baru ditentukan minggu selanjutnya. Peserta dan pemirsa tidak ada yang tahu kalau kali itu hanya penampilan peserta audisi saja. Dengan demikian perolehan sms semakin banyak dan acara semakin panjang. Dengan demikian raupan sms akan semakin menjulang. Kesempatan yang digunakan untuk yang ketiga ini biasanya karena bertepatan dengan hari kartini, karena duet dengan mentor, dan lainnya.
Keempat, tidak berkuasanya juri. Juri hanya ditugaskan mengomentari penampilan peserta dan setelah itu mereka pasrah dan takluk pada perolehan suara sms dalam menentukan siapa yang akan terelemenasi. Penilaian juri hanya berupa komentar kosong tanpa point angka antara peserta yang bagus, lebih bagus, dan paling bagus. Padahal kalau dipikir lebih jauh, vote sms tersebut hanya berpihak pada mereka yang ber-uang. Siapa yang lebih banyak mengeluarkan biaya, maka dialah yang perpeluang menapatkan vote sms tertinggi dengan membiayai orang-orang sekitar, teman, dan kolega.
Dari beberapa point di atas maka sudah jelas kalau audisi talent show yang lumrah terjadi di Indonesia ini mengarah pada persaingan tidak sehat, kerena bukan murni kemampuan yang menentukan juara tidaknya peserta, tapi perolehan sms yang gampang untuk disetting dan dikelabuhi.
Untuk itu, sebagai sumbangan ide dan solusi agar audisi talent show di Indonesia ini selamat dari dugaan kapitalisme, maka minimal harus dilakukan perubahan management pertunjukan, seperti penayangan iklan sewajarnya saja, penentuan elemenasi tidak murni vote sms, dan mewadahi para finalis pasca audisi, yang diharapkan bisa mempermudah dalam penyaluran bakat dan kemampuannya meski sudah tidak berlomba.

 *Penulis adalah mahasiswa Magister IAIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di Probolinggo, Jawa Timur

Sumber dari web: http://www.nu.or.id

Minggu, 03 Mei 2015

Pekerjaan Yang Paling Disukai Allah Dan Manfaatnya


“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” (QS,2,153). “Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar,  sesungguhnya dzikrullah (sholat) adalah lebih besar ..” (QS, 29:45). “Dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itu kekal di surga lagi dimuliakan”. (QS, Al Maarij ; 34-35).

Salah satu kewajiban muslim adalah sholat 5 waktu, pada waktu yang ditentukan, “Sesungguhnya sholat itu adalah fardu yang di tentukan waktunya atas orang-orang beriman” (QS, 4:103) “.“Pekerjaan yang paling disukai Allah adalah shalat tepat waktu, berbuat baik kepada Ibu  Bapak dan setelah itu berjihad (berbuat baik) di jalan Allah” (Bukhari, Muslim). Adapaun uraian singkat mengenai sholat 5 waktu sebagai berikut: