Rabu, 08 Oktober 2014

Pesan Sosial Idul Adha

Oleh :  Ahmad Mu’takif Billah

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”(al-Kautsar: 1-3)
Dua interpretasi ayat yang penting diketahui. Pertama, maksud dari kata “berkorbanlah” ialah menyembelih hewan kurban sebagai ibadah (al-Ubudiyah) dan mensyukuri nikmat Allah Swt. Sedangkan makna kedua, tafsir kata “terputus” yaitu terputus dari rahmat Allah Swt.
Satu persoalan yang amat mengganjal dibenak penulis. Mengenai ulasan pesan-pesan sosial Idul Adha yang masih dimaknai apa adanya. Mereka yang menghadiri acara dan mendengarkan ceramah, hanya sebatas acara tradisi religi saja tanpa merenungi subtansi hikmahnya. Semestinya mereka mampu meneladani dan mengaktualisasikannya dalam dunia nyata yakni sebagai titik akhir kesalehan sosial mereka menuju suatu perubahan.
Misalnya hikmah sejarah Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ismail A.S, dihayati sepenuh hati. Antara lain; sifat kesabaran, keberanian, kemantapan hati serta keikhlasannya dalam berkorban. Walaupun tingkat perubahannya tidak menyamai seperti para Nabi pilihan, minimal kita bisa bertahap memetik sejarah tersebut sebagai aplikasi pesan-pesan sosialnya di masyarakat.
Ada beberapa langkah perubahan sosial yang paling esensi. Salah satu yang dapat dipetik dari pesan-pesan sosial Idul Adha bagi kehidupan masyarakat. Pertama, kontinuitas (keberlangsungan) ajaran tauhit (akidah), usaha kita dalam mendekatkan diri (at-Taqarrub) kepada Allah Swt. Tujuannya adalah memantapkan keyakinan hati (al-Iman) terhadap ajaran agama serta ikhlas dalam menjalaninya: tanpa ada tendensi lain. Karena dua tujuan ini termasuk puncak pengabdian seorang hamba mendapat ridla-Nya.
Kedua, Idul Adha moment dalam penentasan kemiskinan kaum du’afâ’ (lemah). Yakni memberikan harta (hewan sembelihan) kepada mereka yang berhak, dimana tujuannya semata-mata menolong dan meringankan beban mereka di dunia dan mengharap pahala kelak di akhirat. Program pemerintah mengenai penentasan kemiskinan ini, ternyata masih dipandang kurang berjalan maksimal. Oleh sebab itu, masyarakat penting dijejali kesadaran agama (al-Muhâsabah an-Nafsiyyah) sehingga terjadi saling mengkorelasi baik antara agama dan negara.
Kemudian mengenai pembahasan status pemberian daging hewan kurban yang diberikan, hal tersebut hampir sama dengan praktek shadaqah ataupun zakat, namun waktunya saja yang berbeda: pada intinya pemberian. Barangkali shadaqah masuk dalam kategori pengertian umum yakni pemberian cuma-cuma, sementara berkurban, hibah harta atau hadiah masuk dalam ranah pengertian khusus. Hukum berkurban adalah anjuran kuat (sunnah muakkadah). Dalam al-Qur’an disenyalir “maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”(Al-Kaustar: 01-03). Selanjutnya untuk memaksimalkan cara pengelolaan dan pengembangannya, maka harus diserahkan dan ditangani langsung oleh tokoh agama sekaligus pemerintah secara khusus.
Ketiga, mengkaji historitas agama. Salah satu solusi perubahan sosial keagamaan dapat ditempuh dengan perenungan terhadap peristiwa-peristiwa sejarah para Nabi terdahulu serta mulia bilamana berhasil diaktualisasikan dalam bentuk nyata. Oleh sebab itu, sifat optimis, kesadaran dalam beragama harus terus dipompa dengan cara berlatih (bi al-Riyadhah). Sebab sumber kesuksesan sebenarnya tergantung pada usaha perubahan dari dirinya sendiri, sedikit bergantung pada orang lain. Optimis dalam arti mampu mempertahankan kesucian (sakralitas) agama dan sejarah para Nabi (al-Sîrah al-Nabawiyyah) yang seringkali tak terpikirkan. Sehingga pada akhirnya tercipta insan berpikir, berdzikir dan beramal sholeh.
Keempat, membangun sikap dermawan dan cinta kasih. Nilai derajat ataupun pangkat seseorang dapat dinilai dari sifat yang dimilikinya: dalam sebuah hadist Nabi disenyalir :“qîmatul mar’iy akhlâquhu”, nilai seseorang dapat dilihat dari budi pekertinya. Orang tersebut dipandang “baik” karena perilakunya yang “baik”, begitu juga sebaliknya. Kanjeng Nabi Muhammad Saw disenangi banyak kaumnya karena beliau sering bergaul dengan anak-anak kecil begitu juga para sahabat sampai kelihatan gigi gerahamnya. Ini menandakan betapa antusiasnya beliau dalam berinteraksi sosial: cinta sesama. Beliau juga berkorban (hubungan vertikal) dan mencintai sesama (hubungan horizontal) karena ada anjuran agama agar juga ditiru oleh seluruh umatnya.
 Di hari perayaan besar ini kita sempatkan berkasih sayang kepada yang lebih muda dan menghormati kepada yang lebih tua, Nabi Muhammad bersabda: “laysa minna man lam yarhan shoghîrana wa lam yuwaqqir kabîrana”, bukan golongan kami; dia yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. Selain dari itu, kita bisa memperbanyak amal jariyah, dengan tujuan membantu meringankan beban mereka yang sengsara hingga mereka bisa senang dan gembira. Tidak karena ingin dipuja (riya’), akan tetapi tulus menolong  mereka.
Kelima, menjalin ukhuwah Islâmiyyah. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya mengibarkan bendera perdamaian, persaudaraan, dan saling harga menghargai antara satu dengan yang lainnya. Ukhuwah Islâmiyyah dapat kita terapkan melalui hubungan silaturrahim (halal-bihalal), mengucapkan salam ketika bertemu, berjabatan tangan, dan murah senyum. Islam sangat menjaga nilai-nilai etika manusia dalam bergaya hidup.
Walhashil,  hal-hal yang bersifat remeh jangan sampai kita tinggalkan atau enggan dilakukan. Benar pepatah mengatakan, “ jangan engkau meremehkan sesuatu yang dianggap kecil, terkadang jarum baju yang kecil itu juga dapat mengeluarkan bersimbahanya darah seseorang”. Maka dari itu, setiap gejala kehidupan yang terjadi harus kita pikirkan dan renungi faidahnya walaupun hal itu bersifat abstrak. Sebab Tuhan menciptakan segalanya sesuatunya di muka bumi ini tak ada sia-sia.afalatatafakkarun

Penulis adalah: Santri Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar